Senin, 22 April 2013

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
I.       PENDAHULUAN
Dalam perspektif teoritik, pendidikan seringkali diartikan dan dimaknai orang secara beragam,  bergantung pada sudut pandang masing-masing dan teori yang dipegangnya. Terjadinya perbedaan penafsiran pendidikan dalam konteks akademik merupakan sesuatu yang lumrah, bahkan dapat semakin memperkaya khazanah berfikir manusia dan bermanfaat untuk pengembangan teori itu sendiri. Tetapi untuk kepentingan kebijakan nasional, seyogyanya pendidikan dapat dirumuskan secara jelas dan mudah  dipahami oleh semua pihak yang terkait dengan pendidikan, sehingga setiap orang dapat mengimplementasikan secara tepat dan benar dalam setiap praktik pendidikan.
Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana menunjukkan bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang disengaja dan dipikirkan secara matang (proses kerja intelektual).  Oleh karena itu, di setiap level manapun,  kegiatan pendidikan harus  disadari dan direncanakan, baik dalam tataran  nasional, dalam makalah ini akan membahas pendidikan nasional yang ditinjau dari sudut pandang filsafat pendidikan Islam.

II.    RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana Telaah Dan tujuan Pendidikan Nasional ?
B.     Bagaimana tujuan Filsafat Pendidikan islam ?
C.     Bagaimana Pendidikan Nasional Ditinjau Dari Sudut Pandang Filsafat Pendidikan Islam ?

III. PEMBAHASAN
A.    Bagaimana Telaah Dan tujuan Pendidikan Nasional ?
Dijelaskan dalam garis-garis besar Haluan Negara tahun 1993, bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia, yaitu menusia yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan Yang Maha Esa, Berbudi pekerti yang luhur, Berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, trampil, disiplin, beretos kerja, professional, tanggung jawab dan prouktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional harus menumbuhkan jiwa patriotic dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetia kawanan social serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa pahlawan serta berorientasi masa depan. [1]
Untuk mengetahui definisi pendidikan perspektif filsafat pendidikan islam, sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS yakni: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujutkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian serta ketrampilan dirinya, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

B.     Bagaimana Dasar Dan tujuan Filsafat Pendidikan islam ?
1.      Dasar-dasar pendidikan Islam
            Dasar atau pundamen deri suatu bangunan adalah bagian dari bangunan yang menjadi sumber kekuatan dan keteguhan terhadap berdirinya bangunan itu. Pada suatu pohon dasar itu adalah akarnya fungsinya sama dengan pundamen tadi, mengeratkan berdirinya pohon itu. Kaitanya dengan dasar pendidikan islam ialah Firman Tuhan dan Sunnah Rasullah S.A.W. Kalau pendidikan diibaratkan bangunan, maka isi Al-Qur’an dan Hadistlah yang menjadi pundamennya.dengan dua dasar yang sesungguhnya hanya satu ini, maka keteguhan berdirinya pendidikan islam tidak dapat digoyangkan oleh apapun juga. Oleh karena itu, pemakaian teori dan filsafat pendidikan islam bagi usaha-usaha pendidikan masih lebih mudah, denga tidak menyimpang dari maksut semula yaitu mendasarkan usaha-usaha pendidikan pada Al-Qur’an dan Hadist.[2]
            Bagi umat islam maka dasar agama merupakan fondasi Utama dari keharusan berlangsungnya pendidiakan, karena ajaran-ajaran islam berfungsi unifersal yang mengandung aturan-aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dalam hubungannya dengan khaliqnya yang diatur dalam Ubudiah, juga dalan hubungannya dengan sesamanya yang diarur dalam muamala. Urusan prioritas pendidikan islam dalam upaya pembentkan kepribadian muslim,[3]

2.      Tujuan Pendidikan Islam
            Bila pendidikan kita pandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan, suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujutan ntang tujuan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan. Nilai-nilai ideal itu mempengaruhi dan mewarnai pola kepribadian manusia, sehingga menggejala pada perilaku lahiriah adalah cermin yang memproyeksikan nilai-nilai ideal yang telah mengacu didalam jiwa  manisia sebagai produk dari proses kependidika.
            Jika kita berbicara tentang tujuan pendidikan islam, berarti buerbicara nilai-nilai ideal yang bercorak islami, hal ini mengandung makna bahwa pendidikan islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi idealitas islami,. Sedang idealis islam itu adalah perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh imam dan taqwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.[4]

a. Fungsi dan jenis tujuan pendidikan
      Sebagai suatu agama, islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan komperhensif disbanding dengan agama lain yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya, sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman ataau sampai hari akhir, islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup diakhirat, ibadah dan menyerahkan diri kepada Allah saja  melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup didunia termasuk didalamnya mengatur masalah pendidikan.[5]
      Tujuan telah terlingkup didalam pengertian usaha, yang mana usaha memahami permulaan dan memahami pula akhirnya. Ada usaha yang terhenti karena suatu kegagalan sebelum mencapai tujuan, tetapi usaha itu belum dapat disebut berakhir. Pada umumnya, suatu usaha baru berakhir kalau tujuan akhir telah tercapai. Dengan ini, sampailah kita kepada fungsi tujuan yang pertama, yaitu mengakhiri tujuan itu.
       Tujuan dapat pula merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, baik merupakan tujuan-tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama. Dapat diakatakan bahwa dalam suatu tujuan itu membatasi ruang gerek usaha, dalam segi lainnya mempengaruhi dinamik dari usaha itu
      Funggsi tujuan akhir, ialah memelihara arah usaha itu dan mengakhirinya setelah tujuan itu tercapai. Fungsi tujuan sementar, ialah membantu memelihara arah usaha dan menjadi titik berpijak untuk mencapai tujuan-tujuan lebih lanjut dan tujuan akhir.

b.Tujuan akhir pendidikan Islam
      Ketentuan-ketentuan mengenai apa yang disebut kepribadian muslim, adalah lebih abtrak lagi dari pada kedewasaan rohaniah. Lebih sulit pulalah untuk menentukan bil;a masanya dan siapa-siapa yang telah mencapai keadaan itu. Sesungguhnya penentuan mengenai hal itu bukanlah wewenang manusia.tuhan lah yang menentukan siapa-siapa diantara hambaNya yang betul-betul telah mencapai tujuan itu. Pendidikan dapat diusahakan oleh manusia tetapi penilaian tertinggi mengenai hasilnya adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Sesungguhnya tujuan pendidikan islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap orang muslim, jelas bahwa manusia hanya diperkenakan memilih satu agama, ialah agama Islam dan tujuan hidupnya ialah menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya.[6]
       Kedewasaan roskanhani bukanlah bukanlah merupakan sesuatu yang setatis, melainkan melalui suatu proses, ukuran-ukuran mengenai hal ini bersifat teoretis dan gradual, seorang dinyatakan mencapai dewasa secara roohani apabila ia telah dapat memilih sendiri, memutuskan sendiri dan bertanggung jawab sendiri sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Dengan demikian maka mencapai kedewasaan merupakan tujuan sementara pendidikan untuk mencapai tujuan akhir, dan tujuan akhir pendidikan islam adalah terwujudnya kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam.[7]
      Adapun konsep tujuan pendidikan, maka definisi yang paling sederhana yang mungkin disebut adalah perubahan yang diingini yang diusahakan melalui proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya.salah satu tujuan pendidikan yaitu perubahan tingkah laku sebagai mana belajar.[8]

C.     Bagaimana tujuan Pendidikan Nasional Ditinjau Dari Sudut Pandang Filsafat Pendidikan Islam ?
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional (SISDIKNAS) pasal 3 menjelaskan, bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriaman dan bertaqwa kepada Tuha Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatiif mandiiri dan menjadi warga Negar yang Demokratis serta bertanggung jawab. Bahwa nilai-nilai yang hendak dituju oleh pendidikan islam adalah berdimensi trensendental (melintasi wawasan duniawi) sampai ukhrawi dengan meletakkan cita-cita yang mengandung dimensi nilai duniawi sebagai sarannya. Oleh Karena pendidikan merupakan sarana untuk merealisasikan tujuan hidup bagi orang muslim secara universal, maka tujuan pendidikan islam diseluruh dunia dapat diikatakan sama, yang membedakan hanyalah sistem dan modelnya
Dalam upaya mencapai tujuan organisasi, telah ditetapkan ruang lingkup dan usaha menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran melalui pondok pesantren, diniyah, madrasah, atau skolah negri dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi, kursus-kursus serta meningkatkan dan menyempurnakan pendidikan, pengajaran dan kebudayaan.[9]
Maka pendidikan islam justru memperluas rentangan konfirmasi nilai-nilai islami sehingga setiap pribadi musliam akan mampu melakukan dialog konstruktif terhadap kemajuan teknologi modern dimana prinsip-prinsip nilai islami memberikan jalan terarah kepada setiap muslim untuk memenfaatkan, mengembangkan ilmu dan teknologi sejauh mungkin dapat dicapai, bukan lagi nilai islami jika kaidah-kaidahnya membelenggu ruang gerak daya cipta, karsa dan rasa pribadi muslim, sehingga membawa kearah kemunduran disegala bidang atau sebagai bidang kehidupan masa kini dan mendatang.
Nilai islami yang seharusnya dikembang-tumbuhkan dalam pribadi anak didik melalui proses kependidikan adalah berwatak fleksibel dan dinamis dalam konfigurasi normatif yang tak berubah sepanjang masa.
Dengan demikian, pendidikan islam bertugas disamping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai islami. Juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel terkait dangan pendidikan Nasional, hal ini berarti pendidikan islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam beriman, bertaqwa dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran islam, yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman. Dengan kata lain pendidikan Nasional haruslah mengacu pada nilai-nila islami, sehingga akan mencetak generasi yang lebih baik.












IV. KESIMPULAN
                        Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional (SISDIKNAS) pasal 3 menjelaskan, bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriaman dan bertaqwa kepada Tuha Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatiif mandiiri dan menjadi warga Negar yang Demokratis serta bertanggung jawab.
                        Sedangkan tujuan pendidikan islam yaitu, ukuran-ukuran mengenai hal  bersifat teoretis, menciptakan insane yang khamil salah satunya seorang dinyatakan mencapai dewasa secara roohani apabila ia telah dapat memilih sendiri, memutuskan sendiri dan bertanggung jawab sendiri sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Dengan demikian maka mencapai kedewasaan merupakan tujuan sementara pendidikan untuk mencapai tujuan akhir, dan tujuan akhir pendidikan islam adalah terwujudnya kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam.

V.    PENUTUP
 Demikian makalah ini saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak baik bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca. Tentunya masih banyak terdapat kekurangan dari penyusunan makalah ini baik dari teknik penulisan maupun isi, Untuk itu saya selaku pemakalah mohon ma’af apabila terdapat kesalahan, Trima kasih.



[1] Abdurrachman Mas’ud, Paradikma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: PUSTAKA BELAJAR, 2001) Hal  202
[2] Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : PT ALMA’ARIF, 1980) HAL 41-44
[3] Zuhairi DKK, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995) hal 153
[4] Arifin , Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : BUMI AKSARA, 1996) HAL 119
[5] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997
[6] Ahmad D Marimba, Op.cit, hal 49
[7] Usman, Filsafat pendidikan, ( Yogyakarta : Teras, 2010) hal 125
[8] Omar mohammad al-taumy al-syaibani, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1975) hal 398-399
[9] Usman, Ibid, hal 125-126

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar